0

Keroncong Barona Nada – Tembang Tresna

Posted by christiarmay on Apr 22, 2017 in Keroncong, Kesenian, Musik

Alamat : Baron Gedhe, Panularan, Laweyan, Surakarta. Orkes Keroncong Barona Nada, sekelompok anak muda yang cinta budaya.

Tags: , ,

 
0

Instrumentalia De Java FIB UNS (Lomba Keroncong 2016)

Posted by christiarmay on Apr 22, 2017 in Keroncong, Kesenian, Musik

Berbanggalah bila UNS punya grup keroncong meskipun baru diberdayakan oleh fakultas. Dari teman-teman FIB UNS

Tags: , , , ,

 
0

Langgam Harapan Palsu (UKM Keroncong ISI Surakarta)

Posted by christiarmay on Apr 22, 2017 in Keroncong, Musik

Nguri-uri kesenian tradisional Indonesia, keroncong milik bangsa Indonesia

Tags: , , ,

 
0

Cover Violin Lagu Dealova

Posted by christiarmay on Apr 22, 2017 in Uncategorized

Tags: , , ,

 
0

PERAN HAMKRI SEBAGAI KELOMPOK PELESTARI MUSIK KERONCONG DI KOTA SOLO

Posted by christiarmay on Apr 20, 2017 in Uncategorized

Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) adalah sebuah kelompok yang memiliki tujuan mulia yaitu melestarikan musik keroncong di Indonesia. HAMKRI sendiri didirikan di Jakarta, pada 13 Juli 1975 dengan pengesahan Menteri Kehakiman tertanggal 16 September 1976 nomor: Y.A.5/430/11 jo. Tambahan Berita Negara RI tanggal 19 Oktober 1976 No. 84. Pendirian HAMKRI dipelopori oleh Bapak R. Maladi (mantan Menpora) dan tokoh-tokoh nasional diantaranya M. Said Reksohadiprodjo (Tokoh Taman Siswa), Sudiro (Tokoh ‘45), Mayjen (TNI-AD) P. Sobiran, Mayjen (TNI-AD) Drs. Umar Said, Brigjen (TNI-AD) Muljosudjono, Ibu Sud, Sudharnoto, Kusbini, H.A. Sa’ali (anggota DPR), Soerojo Wongsowidjojo, Drs. Soemadi (Dirjen TRF), Drs. Soewandono (Dir. Kebudayaan), Drs. Budiman (Kadin Kebudayaan DKI Jaya).

            HAMKRI sendiri bukan hanya menjadi sebuah kelompok pelestari musik keroncong di Indonesia, tetapi menjadi sebuah komunitas bahkan organisasi yang telah menyebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kota Surakarta. Perkembangan HAMKRI di Kota Solo telah berkembang cukup pesat, mengingat Solo adalah tempat dimana musisi-musisi keroncong lahir seperti maestro keroncong pencipta lagu Bengawan Solo yaitu Gesang, Waldjinah yang terkenal dengan lagu Walang Kekek, ‘Miss’ Anie Landouw, serta kakak beradik Endah Laras dan Sruti Respati yang namanya sudah melanglang buana di televisi nasional.

            Usaha untuk melestarikan musik keroncong agar tidak hilang ditelan zaman masih terus dilakukan. HAMKRI Solo memiliki agenda tahunan yaitu Solo Keroncong Festival. Selain itu, HAMKRI juga menggelar latihan keroncong bersama setiap hari Minggu yang sering dikenal dengan Keroncong Persaudaraan. Untuk menghibur kalangan pecinta musik keroncong, HAMKRI menyuguhkan pentas Cakrawala Musik Keroncong yang bekerja sama dengan RRI Surakarta bertempat di Auditorium Sarsito Mangunkusumo dan Pojok Pamor. Setiap Jumat, HAMKRI juga menggelar pagelaran keroncong di Joglo Sriwedari kecuali Jumat minggu ketiga diadakan di Balai Soedjatmoko Gramedia Solo. Agenda lainnya, setiap Selasa minggu ketiga, HAMKRI menggelar Lesehan Keroncong Asli di Taman Budaya Jawa Tengah.

            Tidak cukup bila HAMKRI hanya menggelar pagelaran musik keroncong saja. Beberapa waktu terakhir, HAMKRI juga menggelar Lomba Menyanyi Lagu Keroncong bagi siswa SMP dan SMA di Kota Surakarta yang bertujuan untuk mencari bibit-bibit muda berbakat dalam menyanyikan lagu keroncong yang terkenal rumit dan sulit. Selain itu, ada Lomba Keroncong bagi grup keroncong yang ada di Kota Surakarta.

            Peran HAMKRI Solo sangatlah besar dalam usaha untuk melestarikan musik keroncong di Kota Solo sendiri. Banyak kalangan anak muda di Kota Solo yang kini mulai mau mempelajari musik keroncong. Bahkan, ada beberapa grup keroncong yang anggotanya rata-rata adalah anak-anak muda. HAMKRI sendiri bisa digolongkan sebagai kelompok formal, karena HAMKRI memiliki struktur organisasi dan memiliki program kerja yang akan dilaksanakan dengan jelas. Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial memiliki beberapa kriteria, salah satunya adalah ada suatu faktor yang dimiliki bersama sehingga hubungan bertambah erat. HAMKRI berdiri memiliki tujuan yaitu melestarikan citra musik keroncong yang diyakini mengandung nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang ramah, sopan, santun, dan beradab.

            Budaya bangsa Indonesia adalah budaya milik kita, jangan sampai budaya bangsa ini hilang ditelan zaman atau malah diakui oleh bangsa lain. Keroncong adalah musik asli Indonesia yang patut untuk dilestarikan. Adanya HAMKRI menjadi sebuah titik balik perkembangan musik keroncong di Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau melestarikan warisan budaya bangsanya sendiri.

Tags: , , ,

 
0

CERPEN : My BestFriend, My BoyFriend

Posted by christiarmay on Apr 20, 2017 in Uncategorized

Sore pun menjelang ditandai dengan sang mentari mulai kembali ke peraduannya. Aku masih disini, ya di taman yang telah mempertemukan aku dengannya dua tahun yang lalu. Kala itu, umurku masih lima belas tahun. Pertemuan yang sangat mengesankan untukku. Dan di taman inilah, aku juga berpisah dengannya. Dia menitipkan sebuah gitar kesayangannya, untukku.

“Yes, aku titip gitar ini ya. Aku nggak akan lama kok perginya.”, katanya sambil menyerahkan gitarnya padaku. Aku tidak mampu menatap wajahnya yang begitu syahdu.

“Tapi, aku tidak bisa main gitar, Ji.”, jawabku sambil menunduk.

Ia menggenggam tanganku. Erat.

“Aku yakin kamu bisa, Yes. Aku ingin melihatmu, entah dua tahun, atau lima tahun, atau bahkan sepuluh tahun lagi, memainkan gitarku ini dengan begitu indah.”, katanya lagi.

Aku kembali menatap langit. Bahkan menatap sekelilingku. Taman ini tidaklah istimewa. Bagiku dan bagi Aji, taman ini istimewa. Kami bertemu dan kami berpisah di tempat yang banyak meninggalkan kenangan manis yang tak bisa kami lupakan.

Entah bagaimana kabarnya sekarang. Dia pergi untuk menyelesaikan studinya. Dia adalah sahabatku yang cerdas. Sampai ada universitas favorit di kota lain yang memintanya untuk melanjutkan studinya. Bisa dibilang, Aji adalah kakak kelasku di SMA. Aku mulai mengenalnya melalui MOS karena dia adalah koordinator ekskul band dan paduan suara.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 6 sore. Lama sekali aku berada di taman ini. Aku mulai melangkah meninggalkan taman. Namun, ada yang memanggilku. Aku berhenti sejenak.

“Yesi!”, suara itu memanggilku. Aku seakan tidak asing lagi dengan suara ini. Aji? Apakah Aji pulang? Aku menoleh dan berbalik. Ya… Aji kembali!

“Aji!”, aku berlari menghampiri Aji. Dia membawakan bunga mawar yang sudah dibungkus rapi nan cantik.

“Gimana kabarmu?”, tanyanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya yang sungguh mempesona.

“Baik. Kok kamu pulang?”

“Sahabatnya pulang malah kaget, malah nanya kayak gitu. Yaudah aku balik aja ke Bandung.”, Aji memasang wajah cemberut. Aku cubit pipi Aji dengan lembut.

“Ya maksudku bukan gitu. Tumben kamu mau pulang, dua tahun kan kamu nggak pulang, kalo hubungi kamu cuma lewat BBM, WA, Line kadang-kadang juga.”, jawabku.

“Hehehe… kamu nggak tahu ya alasan lain kenapa aku nggak pulang?”, kali ini pertanyaan Aji penuh misteri.

“Memang ada apa? Oh… aku tahu. Mesti kamu sibuk punya pacar baru.”, aku mulai menerka jawaban Aji. Namun Aji hanya menggeleng.

“Suatu saat nanti kamu akan tahu, Yes. Udah ah, ayo pulang kepengen ketemu sama Ibumu, Yes.”, Aji pun mengajakku untuk pulang.

*****

Satu minggu berlalu. Melihat Aji kembali rasanya senang dan bahagia. Aneh. Kenapa aku begitu bahagia saat melihatnya pulang? Ingin selalu berada di sampingnya dan ingin menghabiskan waktu bersamanya? Memang sebelum Aji keluar kota, kami sering menghabiskan waktu bersama.

Aku melihat Aji dan Ibu begitu serius mengobrol. Anehnya lagi, Ibu menyuruhku masuk. Apa yang mereka bicarakan? Pertanyaan ini terus mengitari otakku.

Ibu menghampiriku di kamar.

“Tadi Ibu bicara apa sama Aji?”, tanyaku serius. Aku terus menatap Ibu. Seperti ada yang disembunyikan.

“Nggak papa. Kan udah lama Ibu nggak ngomong-ngomong sama Aji. Memangnya nggak boleh?”, jawab Ibu penuh misteri.

“Ya boleh. Tapi kan aneh, Bu. Tumben banget Ibu nyuruh aku buat masuk.”, jawabku penuh harap agar Ibu menceritakan apa yg dibicarakan tadi bersama Aji.

“Ibu mau tanya sama kamu. Sebenarnya, yang kamu rasakan sama Aji itu gimana?”, tanya Ibu serius. Aku hanya cengar-cengir.

“Yang Yesi rasain? Biasa aja, Bu. Kan Yesi udah anggep Aji sahabat. Kalo untuk pacaran, kayaknya enggak, Bu. Mana mungkin Aji suka sama Yesi. Yesi pengennya bersahabat ya bersahabat, Bu. Karena Yesi tahu, kalo pacaran terus putus, ujung-ujungnya kan jadi musuh. Yesi nggak mau itu terjadi.”, jawabku panjang lebar. Aku masih melihat raut muka Ibu yang penuh tanda tanya. Seakan ada sesuatu hal penting yang disembunyikan.

“Yaudah kalau itu maumu, Yes. Ibu hanya bisa dukung yang terbaik. Kamu boleh berteman dengan siapapun, asal kamu bisa jaga dirimu, ya…”, Ibu mengelus kepalaku.

Aku masih memikirkan apa yang Ibu dan Aji bicarakan. Dan anehnya lagi, Ibu tidak mengizinkanku untuk keluar. Tumben banget, kan? Namun aku hanya bisa memendam rasa penasaranku ini. Aku berharap, tidak ada apa-apa.

Handphoneku berdering. Ternyata dari Aji.

“Hallo?”

“Hallo, Yes… Malam ini kamu bisa keluar nggak?”

“Bisa. Tapi kamu izin Ibuku dulu, Ji. Mau kemana memangnya?”

“Aku mau ajak kamu, ngeliat temen-temenku tampil di Young Cafe. Tampil akustikan kok…”

“Oh gitu… yaudah aku ganti baju sekarang. Kamu jangan telat jemputnya.”

“Siap, Yes.”

Aku segera berganti baju dan berdandan. Biasanya kalau pergi sama Aji aku tidak pernah berdandan, hehehe. Aku menatap diriku di depan cermin. Kalau aku memoles wajahku dengan rias yang tidak terlalu tebal, mungkin aku menjadi lebih menarik. Aku mencoba memoles sedikit demi sedikit wajahku dengan alat rias yang ada di meja.

Tepat pukul 7 malam Aji datang menjemputku. Terlihat motornya sudah terparkir di depan halaman. Aku keluar dari kamarku untuk menemui Aji.

Aku kaget saat Aji melihatku. Ibu juga tak kalah kaget melihatku. Ada apa ini?

“Yes… Ini kamu?”, tanya Ibu cukup heran.

“Iya, Bu. Ini Yesi anak Ibu. Ibu kenapa keheranan?”, tanyaku aneh.

“Sumpah, Yes. Kamu kalo dandan malah jadi cantik banget.”, puji Aji. Aku tersipu.

“Ah… Ngejek kamu, Ji.”, aku pun merendah.

“Beneran kok. Ibumu aja udah bilang kalo kamu cantik, berarti memang kamu cantik. Yaudah ayo berangkat.”, ajak Aji.

Kemudian aku dan Aji berpamitan pada Ibu, menuju ke Young Cafe. Selama di perjalanan, Aji banyak bercerita tentang kegiatannya di Bandung. Meski usia Aji lebih tua dariku, namun aku tak canggung memanggilnya tanpa sebutan “Kak”. Aku nyaman memanggilnya Aji karena lebih akrab daripada aku harus memanggilnya Kak Aji.

Tiga puluh menit kemudian, kami sampai di Young Cafe. Aku melihat teman-teman Aji semasa SMA. Berarti kakak kelasku mengadakan acara bareng. Aji memperhatikanku dengan cukup serius.

“Kenapa Yes?”, tanya Aji.

“Kok ada temen-temenmu SMA sih, Ji? Berarti semua kakak kelas ada dong?”

“Emang. Kan Young Cafe ini bisnis bersamanya angkatanku.”

Aji mengajakku untuk masuk ke Young Cafe. Sedikit banyak aku tahu, siapa saja kakak kelas yang ada saat itu. Ada Kak Rama, mantan ketua OSIS yang jadi idola, ada Kak Dewi, gadis berkacamata yang sekarang lanjutin studinya di jurusan Kedokteran, dan tak lupa Kak Fani, mantannya Aji.

Aku dan Aji duduk di dekat panggung perform. Aji sibuk menjawab sapaan teman-temannya yang berlalu lalang datang silih berganti.

“Yes, kamu mau perform sama aku?”, tanyanya.

“Enggak, ah. Main gitar aja baru belajar.”, jawabku pesimis.

“Idiiih pake ngrendah segala orang tadi Ibu cerita ke aku kalo kamu sebenernya udah bisa main gitar, bahkan kamu punya band akustik ya, Yes?”, tanya Aji lagi.

“Apaan sih, Ji. Itu hanya iseng untuk tugas seni musik.”, jawabku malu-malu.

“Kalo mau sih, ya nanti kita perform bareng.”, kata Aji lagi.

Tiba-tiba, Kak Rama datang menghampiri kami. Kak Rama melihatku dengan ekspresi yang misterius.

“Hey, Ji! Dateng sama siapa, lo?”

“Sama sahabat kok, ini adik kelas kita, Ram, sekarang dia kelas 3 ini.”

“Gue kira cewek lo. Makanya, kok gue liat temen lo ini, kayak nggak asing gitu.”

“Hahaha, iya, eh Yes bentar ya, aku mau ngomong sama Rama. Kamu nggak papa kan disini bentar?”, tanya Aji. Aku tersenyum sambil mengangguk.

Aku melihat Kak Rama dan Aji sangat serius membincangkan sesuatu. Hari ini, orang-orang yang berada di sekitarku bertingkah penuh misteri. Mulai dari Ibu, Aji, dan Kak Rama. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi.

Kemudian, Aji naik ke atas panggung. Ternyata Aji mau perform. Sebagai sahabat yang baik, aku harus bisa menjadi penonton yang baik, hehe. Lagu yang dibawakan Aji sudah tidak asing di telingaku, karena dulu kami memang sering menyanyikan lagu itu bersama. Saat lagu itu selesai, Aji mengatakan sesuatu.

“Lagu kedua yang sebentar lagi akan saya nyanyikan, saya persembahkan untuk orang yang sangat berarti bagi hidup saya. Saya kenal dengannya secara tak sengaja, saya sebagai kakak kelasnya, dan dia adik kelas saya. Dua tahun kami mengenal dan saya merasakan ada yang berbeda saat saya bersamanya. Perjalanan persahabatan kami memang belum begitu lama. Namun saya ingin, agar apa yang saya rasakan ini dapat tersampaikan untuknya. Saya panggil, Yesiana Kezia untuk maju.”

Aku kaget dan sangat terkejut saat Aji menyebut namaku. Aku masih bingung apa yang Aji katakan tadi. Dia terlihat percaya diri mengatakan semua.

Aji memintaku untuk duduk dan memintaku untuk berduet memainkan gitar bersama. Aji menyanyikan lagu yang tidak asing lagi di telingaku. Lagu yang berjudul Selamanya Cinta menjadi lagu romantis malam ini.

Pukul 9 malam Aji mengajakku untuk pulang. Namun, saat sudah sampai di taman tempat kami biasa bertemu, dia berhenti.

“Yes, kamu tahu kenapa tadi aku nyuruh kamu naik ke panggung?”, tanyanya.

Aku menggeleng.

“Kamu tahu, kenapa aku nyanyiin lagu Selamanya Cinta buatmu?”, tanyanya lagi.

Aku menggelengkan kepalaku. Memang aku tidak tahu dan tidak mempedulikan apa yang dikatakan Aji tadi waktu di Young Cafe. Lalu, Aji menggengam tanganku.

Andaikan ku dapat mengungkapkan, perasaanku… Hingga membuat kau percaya… Akan kuberikan seutuhnya, rasa cintaku… Rasa cinta yang tulus, dari dasar lubuk hatiku…”, Aji menyanyikan lagu itu untukku. Tatapan matanya yang syahdu membuatku larut dalam suasana ini. Ya… suasana dimana aku dan Aji kembali bersama untuk saat ini. Aku berharap dia kembali. Kembali disini.

“Maksudmu apa, Ji?”, tanyaku heran.

“Seringnya kita habiskan waktu berdua, aku merasa nyaman sama kamu, Yes. Aku nggak bisa bohongin perasaanku lagi. Aku nggak bisa mengelak lagi dari rasaku ini. Aku sayang kamu, Yes. Sayang banget. Selama aku di Bandung dan nggak pulang, aku memang jauhin kamu. Pas aku datang, aku tahu kamu pasti ada di taman ini, sambil metik gitar pemberianku. Jujur, aku kangen banget sama kamu. Hingga pada akhirnya, aku memang harus ngomong ini, Yes. Ngomong semua unek-unek yang aku rasain. Aku merasa bersalah sama kamu, karena aku nggak pulang, karena aku jauhin kamu. Maafin aku, Yes.”, jawab Aji. Tak terasa air mataku jatuh di pipi. Aji mengusap pipiku sambil tersenyum.

“Cewek manis kayak kamu nggak boleh nangis, nanti manisnya ilang.”, kata Aji sambil tersenyum. Aku menghela nafas sejenak.

“Kamu kok gombal sih, Ji. Jangan gombal ah, nanti aku ngefly lagi.”

“Aku nggak gombal, Yes. Aku serius. Aku sayang kamu, Yes.”, Aji mendekapku dengan erat.

“Ji, status kita ini sahabatan apa pacaran? Kalo pacaran terus putus…”

Aji menutup mulutku.

“Kita nggak akan putus. Aku janji, Yes. Kita tetap menjadi sahabat dan pasangan kekasih selamanya.”, kata Aji lagi.

Malam ini adalah malam yang penuh dengan cerita unik. Persahabatan memanglah indah, karena kita bisa belajar mengasihi dan dikasihi, belajar member dan diberi, dan terlebih lagi, kita belajar arti hidup. Jangan sia-siakan sahabat ataupun orang yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan mereka untukmu.

Tags: , , , , ,

 
0

APA KATA ALKITAB MENGENAI IBU?

Posted by christiarmay on Apr 20, 2017 in Uncategorized

Menjadi ibu adalah peranan yang sangat penting yang Tuhan berikan kepada banyak perempuan. Dalam Titus 2:4-5 yang berbunyi, “Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang” para ibu diminta untuk mencintai anak-anak mereka. Dalam Yesaya 49:15a Alkitab mengatakan, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya?” Kapankah fungsi keibuan dimulai?

Anak adalah hadiah dari Tuhan (Mazmur 127:3-5). Dalam Titus 2:4 muncul kata Bahasa Yunani “phileoteknos.” Kata ini mewakili jenis khusus dari “kasih-ibu.” Ide yang mengalir keluar dari kata ini adalah “lebih menyukai” anak-anak kita, “memperhatikan” mereka, “membesarkan” mereka, “memeluk mereka dengan kasih sayang,” “mencukupi kebutuhan mereka,” “berteman dengan lemah lembut.” Setiap anak adalah pribadi yang unik yang berasal dari tangan Tuhan. Kita diperintahkan dalam Alkitab untuk melihat “kasih-ibu” sebagai tanggung jawab kita. Baik para ibu maupun para ayah diperintahkan oleh Firman Tuhan untuk melakukan beberapa hal:

  1. Tersedia – pagi, siang dan malam (Ulangan 6:6-7)
  2. Keterlibatan – berinteraksi, berdiskusi, memikirkan dan memproses kehidupan bersama-sama (Efesus 6:4).
  3. Mengajar – Alkitab, pandangan dunia yang Alkitabiah (Mazmur 78:5-6, Ulangan 4:10, Efesus 6:4).
  4. Mendidik – menolong anak mengembangkan keterampilan dan menemukan kekuatannya (Amsal 22:6).
  5. Mendisiplin – mengajarkan takut akan Tuhan, menentukan batas secara konsisten, penuh kasih dan ketegasan (Efesus 6:4; Ibrani 12:5-11, Amsal 13:24, 19:18, 22:15, 23:13-14, 29:15-17).
  6. Membesarkan – menyediakan lingkungan di mana terdapat dukungan secara lisan yang konstan, boleh gagal, penerimaan, kemesraan, kasih yang tanpa syarat (Titus 2:4, 2 Timotius 1:7, Efesus 4:29-32, 5:1-2, Galatia 5:22, 1 Petrus 3:8-9).
  7. Memberi teladan dengan integritas – hidup sesuai dengan apa yang diajarkan, menjadi teladan yang dapat dipelajari oleh anak dengan “menangkap” esensi dari kehidupan yang saleh (Ulangan 4:9, 15, 23; Amsal 10:9, 11:3, Mazmur 37:18, 37).

 

Alkitab tidak pernah memerintahkan setiap perempuan untuk menjadi ibu. Namun demikian Alkitab mengatakan bahwa mereka yang diberkati Tuhan untuk menjadi ibu harus menerima tanggung jawab itu dengan serius. Para ibu memiliki peranan yang unik dan krusial dalam hidup anak-anak mereka. Menjadi ibu bukanlah tugas atau pekerjaan yang tidak menyenangkan. Sebagaimana ibu mengandung dan memberi makan serta memperhati anak pada masa bayi – para ibu memiliki peranan yang berkelanjutan dalam hidup anak-anak mereka, para remaja, dewasa muda dan bahkan anak yang sudah dewasa. Sekalipun peranan keibuan harus berubah dan berkembang, kasih, perhatian, perawatan, dan dorongan yang diberikan seorang ibu tidak pernah akan berakhir.

 

Tags: , ,

 
0

APA KATA ALKITAB MENGENAI AYAH?

Posted by christiarmay on Apr 20, 2017 in Uncategorized

Perintah terbesar dalam Alkitab adalah “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Sebelumnya dalam ayat 2 kita membaca, “supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu” (Ulangan 6:2). Ayat-ayat sesudahnya mengatakan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7).

            Sejarah bangsa Ibrani memperlihatkan bahwa ayah harus rajin mengajar anak-anaknya menuruti jalan dan firman Tuhan demi untuk pertumbuhan rohani dan kesejahteraan mereka. Ayah yang taat kepada perintah-perintah dalam Firman Tuhan akan melakukan hal ini. Kepentingan utama dari ayat ini adalah anak-anak didewasakan dalam “ajaran dan nasehat Tuhan” yang adalah merupakan tanggung jawab seorang ayah dalam rumah tangga. Hal ini membawa kita kepada ayat dalam kitab Amsal 22:6-11, khususnya ayat 6 yang berbunyi “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Mendidik mengindikasikan pendidikan mula-mula yang diberikan ayah dan ibu pada seorang anak, yaitu pendidikan awal. Pendidikan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan anak pada pola hidup yang direncanakan baginya. Memulai pendidikan anak dengan cara sedemikian adalah hal yang amat penting, sama seperti pohon bertumbuh mengikuti arah batangnya waktu baru ditanam.

            Efesus 6:4 adalah ringkasan dari kata-kata nasehat kepada para orangtua, yang di sini diwakili oleh ayah, dan dinyatakan secara negatif dan positif. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Di sini ditemukan apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai tanggung jawab ayah dalam membesarkan anak-anak mereka. Aspek negatif dari ayat ini mengindikasikan bahwa seorang ayah tidak boleh mendorong perkembangan emosi-emosi tidak baik dari anak-anak mereka melalui pernyataan kekuasaan secara berlebihan, tidak adil, memihak atau tanpa alasan. Sikap yang tidak sehat terhadap anak akan mengakibatkan kepahitan hati. Aspek positif dinyatakan dalam arah yang menyeluruh, yaitu mendidik mereka, membesarkan mereka, mengembangkan tingkah laku mereka melalui pengajaran dan nasehat dari Tuhan. Ini adalah pendidikan (ayah selaku suri teladan) anak – proses pendidikan dan disiplin yang menyeluruh. Kata “nasehat” mempunyai pengertian “menempatkan dalam pikiran anak” yaitu tindakan mengingatkan anak akan kesalahan-kesalahan (secara konstruktif) atau kewajiban-kewajiban (tanggung jawab sesuai dengan tingkat umur dan pengertian).

Seluruh proses pengajaran dan disiplin harus berdasarkan apa yang diperintahkan Tuhan, dan yang dilakukan Tuhan, sehingga otoritasNya dapat senantiasa dan langsung bersentuhan dengan pikiran, hati, hati nurani sang anak. Ayah manusiawi tidak boleh menempatkan dirinya sebagai otoritas tertinggi dalam hal kebenaran dan kewajiban. Hal ini hanya akan mengembangkan aspek “diri sendiri.” Hanya dengan menjadikan Allah, Allah di dalam Kristus, sebagai Guru dan Penguasa, yang karena otoritasNya segala sesuatu dapat dipercaya dan karena ketaatan kepada kehendakNya segala sesuatu akan terjadi, maka sasaran dari pendidikan dapat tercapai.

Tags: , , ,

 
0

MERAH PUTIH

Posted by christiarmay on Apr 20, 2017 in CERPEN, Merah Putih

14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Namun, Jepang masih menutup-nutupi berita menggemparkan ini. Meskipun masih dirahasiakan, para pemuda Indonesia telah menyadap siaran radio luar negeri. Mereka senang, karena bangsa yang selama ini menjajah Bumi Pertiwi telah kalah pada Perang Asia Pasifik. Mereka juga tidak ingin momen ini berlalu begitu saja.

            “Bagaimana ini, Bung? Jepang telah kalah melawan Sekutu. Kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan kita!”, kata salah seorang pemuda. Bung Karno dan Bung Hatta saling berhadapan. Mereka diam sejenak.

            “Kita tidak boleh gegabah.”, kata Bung Hatta tenang. Para pemuda menjadi kesal.

            “Kenapa, Bung?”, tanya mereka dengan cukup penasaran.

            “Memproklamasikan kemerdekaan itu tidak mudah. Kita harus merencanakannya dengan matang. Harus rapat dulu.”, jawab Bung Karno.

            Para pemuda masih saja kesal. Bahkan ada diantara mereka yang marah. Mereka ingin agar proklamasi segera dilaksanakan.

            “Sudah tahu Jepang sudah kalah, masih saja menunggu waktu yang tepat, padahal ini adalah waktu yang tepat!”, sedikit demi sedikit mereka meninggalkan Bung Karno dan Bung Hatta.

            Para pemuda merencanakan sesuatu. Mereka akan mengadakan rapat khusus. Tujuannya, hanya ingin mendesak Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Akhirnya, tepat pukul 7 malam di Laboratorium Mikrobiologi mereka bertemu.

            Mereka masih bingung, mengapa Bung Karno tidak segera mengambil keputusan. Mereka memikirkan cara untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta.

            “Bagaimana caranya agar Bung Karno dan Bung Hatta setuju dengan rencana kita?”, tanya Chaerul Shaleh. Terlihat Yusuf Kunto, Singgih, dan Soekarni duduk termenung.

            “Bagaimana caranya?”, tanya Shaleh lagi.

            Mereka masih saja diam. Chaerul Shaleh menghela nafas panjang.

            “Teman-teman, aku ini bertanya pada kalian! Mengapa kalian diam saja? Apa kalian tidak ingin, tanah air kita ini merdeka? Itu kemauan kalian?!”, amarah Chaerul Shaleh mulai tak bisa terbendung lagi. Yusuf Kunto mulai angkat bicara. Namun, ia malah membuat suasana menjadi penuh emosi.

            “Redam amarahmu, Shaleh! Kami ini sedang berpikir!”, Yusuf Kunto menjawab dengan nada tinggi. Shaleh masih saja marah. Hampir saja mereka cekcok dan hendak berkelahi. Soekarni dan Singgih melerai mereka berdua.

            “Tolong jangan bertengkar! Kita adalah satu kelompok! Jangan mudah marah karena hal seperti ini!”, kata Soekarni tegas.

            “Memangnya dengan berkelahi, masalah akan cepat selesai? Kalau berkelahi, malah menambah masalah!”, sambung Singgih.

            Mereka diam sejenak. Yusuf Kunto menatap Shaleh. Baru kali ini, kedua sahabat ini bertengkar karena hal sepele. Shaleh menatap Yusuf Kunto. Kemudian, mereka saling mendekat dan berpelukan.

            “Maafkan aku, Yusuf. Aku hanya ingin bangsa kita merdeka.”, kata Shaleh.

            “Maafkan aku juga, Shaleh. Aku begitu emosi. Aku pun juga begitu. Aku ingin melihat bangsa kita bebas dari penjajah.”, kata Yusuf Kunto.

            “Bagaimana ini? Rencana selanjutnya?”, tanya Singgih. Shaleh tersenyum.

            “Rencana selanjutnya adalah, kita akan memanggil Darwis dan Wikana kemari, untuk membujuk Bung Karno agar Bung Karno mau segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mungkin, dengan mendengar pendapat mereka, Bung Karno dan Bung Hatta bisa luluh.”, jawab Shaleh. Yusuf Kunto, Soekarni, dan Singgih setuju dengan pendapat Shaleh.

*****

            Dua jam sudah, Darwis dan Wikana menghadap Bung Karno dan Bung Hatta. Tetapi, kedua pemimpin ini terlihat murung.

            “Bung, kami mohon. Kami ingin melihat Indonesia segera merdeka, dengan memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Ini adalah saat yang tepat, Bung.”, Darwis menatap Bung Karno dan Bung Hatta.

            “Darwis, Wikana. Kami sangat menghargai maksud kedatangan kalian. Tapi, untuk memproklamasikan kemerdekaan bukan seperti membalikkan telapak tangan”, terang Bung Karno.

            “Bung, mau menunggu apalagi? Jepang sudah kalah melawan Sekutu. Jepang sudah kembali ke negerinya. Ini saat yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Bung.”, sambung Wikana. Bung Karno dan Bung Hatta hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.

            “Tidak bisa! Kita harus rapat dulu, dan ini juga melibatkan golongan tua! Mengapa? Karena untuk merencanakan kemerdekaan Indonesia harus melalui sidang PPKI!”, tegas Bung Karno. Suasana menjadi tegang. Golongan muda ingin agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, sedangkan Bung Karno dan Bung Hatta tidak ingin mengambil langkah gegabah.

            Darwis dan Wikana pulang dengan tidak mendapatkan hasil apa-apa. Mereka pulang dengan lesu dan sedih. Mereka menemui Chaerul Shaleh dan kawan-kawan.

            “Darwis, Wikana, ada apa kalian?”, tanya Shaleh heran.

            “Bung Karno tidak setuju dengan pendapat kami.”, jawab Wikana sedih.

            “Sudah aku duga.”, kata Singgih.

            Chaerul Shaleh terus berpikir bagaimana caranya agar Bung Karno mau untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

            “Kalau dengan cara seperti ini tidak menghasilkan apa-apa, bagaimana kalau Bung Karno dan Bung Hatta kita bawa ke Rengasdengklok?”, tanya Shaleh. Mereka kaget dengan usulan Shaleh.

            “Apa? Rengasdengklok? Aku tidak setuju!”, kata Soekarni dengan tegas.

            “Shaleh, kamu sudah gila ya? Tujuanmu apa membawa Bung Karno ke Rengasdengklok?”, tanya Yusuf Kunto.

            Chaerul Shaleh tertawa melihat tingkah polah para sahabatnya. Mereka semakin keheranan melihat Shaleh.

            “Begini teman-teman, Rengasdengklok adalah suatu daerah yang tidak mendapat jangkauan dari Jepang. Kita bawa Bung Karno dan Bung Hatta agar mereka tidak mendapatkan pengaruh dari Jepang. Kalau mereka masih di Jakarta, pasti mereka akan terpengaruh Jepang dan proklamasi kemerdekaan hanyalah impian belaka.”, terang Shaleh.

            Mereka menganggukkan kepala tanda mengerti. Mereka setuju bila Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok.

*****

            Mereka sampai di Rengasdengklok. Sebuah daerah yang tenang, tanpa ada Jepang. Dan disinilah, Bung Karno dan Bung Hatta bisa menenangkan hati, menyegarkan pikiran mereka dari sibuknya rutinitas.

            Beberapa jam kemudian, Ahmad Soebardjo datang menemui Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka cukup senang, karena mereka bisa berdiskusi bersama, mengenai rencana proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

            “Bung, bagaimana persiapan untuk proklamasi kemerdekaan bangsa kita?”, tanya Ahmad Soebardjo pada Bung Karno.

            “Belum sama sekali, karena saya tidak mau gegabah.”, jawab Bung Karno.

            “Tapi, Bung, pendapat para pemuda itu ada benarnya. Karena, bila Indonesia sudah merdeka, maka Jepang tidak akan berani untuk datang lagi ke negeri kita ini.”

            “Memproklamasikan kemerdekaan suatu bangsa itu tidaklah mudah. Mengapa? Karena itu perlu proses. Kita punya badan, PPKI yang akan mempersiapkan kemerdekaan bangsa kita.”

            “Namun, PPKI itu badan bentukan Jepang, Bung. Mau tidak mau, proklamasi harus segera dilaksanakan.”.

            Bung Karno dan Bung Hatta diam sejenak. Jepang sudah kalah dengan Sekutu. Ini adalah momen yang tepat untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

            “Baiklah. Keputusan saya adalah saya setuju, proklamasi kemerdekaan dilaksanakan secepatnya.”, kata Bung Karno. Bung Hatta tampak senang bercampur haru.

            “Bung, kita juga perlu membuat teks proklamasi. Saya memiliki kenalan orang Jepang, dia adalah Panglima tentara Jepang, tetapi dia sangat simpati dengan kita. Bagaimana kalau kita bertemu dengannya sekarang?”, tanya Ahmad Soebardjo.

            “Bagaimana, Hatta?”, tanya Bung Karno pada sahabatnya.

            “Aku setuju.”, jawab Bung Hatta.

*****

            Fatmawati sedang menyiapkan peralatan yang akan ia gunakan untuk menjahit. Ia mengambil beberapa benang dan jarum. Dengan cekatan ia menyulam sebuah kain merah dan kain putih. Itu adalah sebuah bendera, yang akan digunakan untuk acara proklamasi kemerdekaan, suatu hari nanti.

            Guntur, anak Fatmawati pun mendekati ibunya yang sibuk menyulam.

            “Ibu sedang apa?”, tanyanya polos. Fatmawati menjawab dengan lembut.

            “Ibu sedang menyulam, Nak.”.

            Guntur masih melihat ibunya yang sedang sibuk menyulam.

            “Ibu sedang menyulam bendera ya?”, tanyanya lagi.

            Fatmawati tersenyum padanya.

            “Iya, Ibu sedang menyulam calon bendera bagi negara kita.”, jawabnya lagi.

            Guntur begitu penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh ibunya.

            “Kenapa warnanya merah dan putih, Bu? Kenapa tidak warna lain saja?”, tanya Guntur.

            “Pertanyaanmu bagus sekali, Guntur. Warna merah memiliki arti berani, sedangkan warna putih artinya suci. Pada masa kerajaan Majapahit, merah putih dipakai dalam upacara hari kebesaran raja, saat Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk.”.

            “Oh… seperti itu, Bu.”.

            Fatmawati tersenyum. Kemudian, dia memeluk erat Guntur, darah dagingnya dengan Bung Karno.

            “Jadilah teladan bagi bangsa ini, Nak.”, kata Fatmawati. Tak terasa tetes air mata jatuh di pipi Fatmawati. Ia begitu berharap, suatu saat nanti, bangsanya, Indonesia akan merdeka.

*****

            Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. 17 Agustus 1945 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tepat pukul 10 pagi, proklamasi kemerdekaan telah dikumandangkan. Para pemuda, bahkan seluruh lapisan masyarakat ikut senang dan bahagia, karena bangsa Indonesia yang telah lama dijajah oleh bangsa-bangsa asing, resmi berdiri.

            Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia membuktikan bahwa dengan persatuan dan kesatuanlah, kita dapat merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dengan keringat yang menetes, dengan darah yang tertumpah, membuktikan bahwa bangsa Indonesia berjuang untuk meraih apa yang telah dicita-citakan sejak dahulu, yaitu sebuah kemerdekaan.

 
0

CERPEN : ANTON DAN BUNGA MAWAR PUTIH

Posted by christiarmay on Dec 17, 2016 in Uncategorized

Indah senyumanmu semakin membuatku tahu,

Dirimu adalah ciptaanNya yang terindah…

Tutur kata bahasamu, tingkah lakumu,

Buatku semakin mengerti…

Kaulah yang selama ini aku nanti…

Aku membaca puisi itu dengan seksama. Entah siapa pengirimnya. Namun, puisi itu ditujukan untukku. Semenjak aku masuk di sekolah ini, aku sering mendapatkan puisi anonim yang diletakan di laciku. Selain puisi, ada juga bunga mawar putih, bunga kesukaanku. Seakan-akan dia mengetahui segala hal tentangku. Siapakah dia? Siapakah dirinya? Siapakah seseorang yang begitu baik padaku, hingga aku sering mendapatkan hadiah-hadiah yang indah ini…Pertanyaan itu selalu ada di pikiranku.

Pagi ini diawali dengan mata pelajaran Sejarah. Ya… mata pelajaran favoritku sejak aku duduk di bangku kelas VII SMP. Mempelajari sejarah sama artinya masuk dalam kehidupan masa lalu yang menyenangkan, menyedihkan, dan penuh warna. Dalam sejarah, kita bisa belajar, bahwa kita jangan sampai mengulangi kesalahan yang kemarin di masa yang akan datang. Filosofi yang sangat menarik.

“Ndien, hari ini aku punya koleksi bunga mawar lagi, lho…”, kata Rina, sahabatku.

“Bunga mawar? Beneran?”, tanyaku antusias.

“Iya… kali ini bunga mawarnya sangat cantik.”

“Hmmm… bolehlah hari ini aku main ke rumahmu buat ngeliat koleksi bunga mawarmu? Aku mau nambah koleksi bunga mawarku nih…”

“Kemarin Ibuku baru saja membelikanku bunga mawar merah. Merahnya eksotis, deh Ndien. Aku yakin kamu bakalan suka.”

Aku tersenyum. Sejak kecil aku sangat menyukai bunga mawar, apalagi bunga mawar putih. Mawar putih melambangkan kesucian. Bahkan, aku sengaja meletakkan bunga mawar putih di jendela kamarku. Aku ingin melihatnya setiap hari, melihat salah satu keindahan Tuhan yang benar-benar indah dan eksotis.

Rina melihat puisi anonim yang tergeletak di laciku. Ia sudah hapal, tentang puisi anonim, bahkan bunga mawar putih yang selalu ada di laciku.

“Liat puisinya, ya Ndien.”, kata Rina sambil mengambil puisi anonim itu. Dia membaca dengan cukup seksama. Tiba-tiba dia tertawa.

“Ya ampun, puisinya romantis banget, Ndien. Kamu tau pengirimnya siapa?”, tanya Rina.

Aku hanya menggeleng. Rina membaca sekali lagi puisi anonim itu.

“Aku aneh sama pengirimnya, kok dia bisa tau kalo kamu suka bunga mawar putih, tahu kalo kamu suka puisi, sebenarnya dia siapa sih?”

“Mana aku tahu, Rin. Namanya juga anonim, tanpa nama, ya aku enggak taulah. Aneh kamu.”

“Kayaknya Anton deh, Ndien. Secara dia kan gebetanmu.”, Rina mulai menebak-nebak. Hal yang sebenarnya membuatku sedikit kesal. Anton, nama yang sebenarnya tidak asing di telingaku. Memang, aku pernah memiliki rasa sama dia, namun rasa itu bertepuk sebelah tangan. Bahkan, dia pernah dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak menyukaiku. Mulai sejak saat itu, aku menjauh bahkan menutup rapat-rapat pintu hatiku untuk Anton.

“Jangan sebut nama itu, Rin. Mana mungkin Anton, orang dia enggak suka sama aku. Dia kan lebih suka sama cewek cantik kayak Kak Ajeng, Kak Sinta, ya anak-anak tenar seperti itu.”, jawabku merendah.

“Mungkin aja kali, Ndien. Kan perasaan orang bisa berubah seiring berjalannya waktu.”

“Hmmm… yaudah Rin, kita selesaiin aja tugas Sejarahnya, daripada nanti kita dimarahi Pak Ferdy.”

Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Rina. Anton? Mungkinkah dia sudah berubah? Pikiranku masih tertuju pada Anton.

Ku layangkan pandanganku pada halaman sekolah. Dari jendela kelasku, aku melihat Anton sedang olahraga. Hari ini jadwal kelas Anton untuk olahraga. Sebenarnya, dia cukup tampan, keren, bahkan bisa dibilang dia tenar. Ya… tenar, karena dia memiliki segudang prestasi dalam olahraga. Makanya, dari adik kelas, teman seangkatan, sampai kakak kelasku berkompetisi untuk bisa mendapatkan hatinya Anton, agar mereka bisa mengenal Anton lebih jauh lagi. Dahulu, aku memang salah satu dari antara mereka. Sekarang tidak! Karena bagiku, Anton adalah cowok sombong yang pernah aku kenal.

Aku hanya berharap agar suatu saat nanti, aku tidak ingin melihat Anton. Aku berharap, bisa kuliah di kota lain, untuk menghindari Anton. Aku yakin, Anton pasti akan kuliah di kota ini.

 

*****

Pagi hari pun datang kembali. Aku sudah bersiap berangkat ke sekolah. Kali ini, aku sengaja untuk tidak memakai sepeda motorku. Tapi, aku akan berangkat ke sekolah dengan sepeda, yang dulu pernah aku pakai semasa SMP. Sekali-kalilah aku naik sepeda, itung-itung untuk kesehatan. Aku melihat Anton juga naik sepeda. Anehnya, dia mengayuh sepedanya cukup kencang. Pikirku, mungkin dia tahu kalau aku naik sepeda, biar dikira nggak barengan. Aduh, kok aku jadi PD sih… sebenarnya, kalau barengan nggak papa, tapi dia bakalan malu habis-habisan. Aku memilih untuk lewat jalan lain.

Dengan sepeda, aku bisa melihat suasana jalan raya yang ramai. Banyak orang berlalu lalang untuk menuju ke tempat yang mereka tuju. Termasuk aku, hehehe… Dan tak terasa, tiga puluh menit berlalu. Aku sudah sampai di sekolahku.

Ku parkir sepedaku, kemudian aku berlari menuju ke kelasku. Untungnya, aku belum terlambat, karena lima menit lagi, bel tanda masuk kelas berbunyi. Rina sudah cengar-cengir melihatku.

“Kenapa, Rin?”

Rina hanya tersenyum. Dia menyodorkan bunga mawar putih dari laciku.

“Ada kiriman lagi, Ndien.”, jawabnya.

Mawar putih penuh misteri. Anonim lagi pengirimnya. Aku semakin penasaran. Siapa yang sebenarnya mengirimkan bunga mawar putih itu. Selalu deh, ada puisinya juga. Kali ini juga cukup romantis, sama seperti kemarin. Bahkan lebih romantis dari yang terdahulu. Namun, aku hanya bisa bersyukur, meskipun anonim, ternyata masih ada yang mengagumiku. Tapi, aku tidak suka dengan sifat pengirim anonim itu yang penakut, tidak berani menampakkan batang hidungnya padaku.

“Kalo bunga mawar ini buatmu, kamu mau nggak, Rin?”, tanyaku.

“Buatku? Sebenarnya aku mau aja sih, Ndien. Tapi ini untukmu. Kalo si anonim itu tau kalo pemberiannya tidak sampe ke orang yang dituju, dia pasti kecewa.”, jawab Rina. Kali ini, aku curiga dengan jawaban Rina. Sepertinya, Rina menyembunyikan sesuatu dariku. Ah, tidak mungkin sahabat mengkhianati sahabatnya sendiri.

Jujur, aku tidak konsen dengan pelajaran hari ini. Aku masih memikirkan siapakah sebenarnya anonim itu. Aku hanya bisa diam, bahkan aku harus meminta tolong pada siapa. Kenapa baru kali ini aku mempertanyakan siapakah pengagum rahasiaku. Siapakah dia sebenarnya? Apakah dia Anton? Atau dia adalah orang lain? Entahlah.

“Andien?”, Bu Nita mengagetkanku.

“Iya, Bu?”, tanyaku gugup.

“Kamu tadi terlihat melamun saat pelajaran ini berlangsung. Ada apa?”

“Nggak papa, Bu. Saya lagi banyak pikiran.”

“Kalau begitu nanti temui Ibu di ruang konsultasi ya.”

Hal yang paling aku benci adalah ruang konsultasi. Aku pernah masuk ruang konsultasi karena ulahku, bertengkar hebat dengan Rio. Meski dia cowok, aku tidak takut, karena dia yang memulai duluan.

“Ndien, kamu kenapa sih?”, tanya Rina.

“Nggak papa, Rin. Aku masih kepikiran sama kejadian tadi pagi.”, jawabku lesu.

“Soal bunga mawar putih dan puisi? Enjoy aja, Ndien.”, Rina menepuk pundakku.

“Tapi aku sekarang jadi penasaran siapa anonim itu, Rin…”

“Kamu sabar, Ndien. Suatu saat nanti kamu bakal tahu kok, siapa anonim itu sebenarnya.”

“Kalo anonim itu ternyata Anton, gimana ya, Rin…”

“Ya nggak papa dong. Emang kenapa?”

“Jujur, aku sih males banget denger nama Anton sejak kejadian kelas X dulu.”

“Kamu dendam sama dia?”

Aku mengangguk. Aku tidak mau dengar nama Anton. Karena aku begitu benci dengan Anton. Aku berharap, Anton pergi jauh dari hadapanku. Pergi menjauh dari mataku. Bahkan, aku berharap agar aku kuliah di luar kota, untuk hidup jauh dari Anton.

Memang, Anton adalah teman bermainku semasa kecil. Entah, apa yang membuatnya menjadi berubah drastis seperti ini. Padahal, dulu kami begitu akrab, begitu dekat, apa-apa selalu berdua, bahkan orangtua kami pun saling mengenal dekat. Ya… namanya juga manusia, pastilah suatu saat nanti akan berubah seiring berjalannya waktu.

Diam dan merenung. Kegiatan ini yang sekarang aku lakukan. Memandang birunya langit yang nampak indah, serta awan-awan putih yang menghiasinya. Aku sengaja duduk dekat lapangan futsal. Aku tahu, dan aku yakin, nanti Anton akan latihan disini. Benar, sepuluh menit kemudian, Anton datang bersama teman-temannya. Dia melihatku dengan tatapan cuek. Ku balas tatapannya dengan tatapan wajahku yang cuek pula.

Aku melihat permainan Anton kali ini cukup mengecewakanku. Dulu, saat kami duduk di bangku kelas VII SMP, dia selalu mengajak aku untuk menemaninya bermain futsal. Saat itu, dia bermain cukup bagus, bahkan cukup energik. Berbeda dengan sekarang, dia bermain cukup lesu bahkan mengecewakan.

Aku beranjak dari taman untuk pergi menuju ke kelasku. Terdengar derap langkah yang mengikutiku. Dia semakin mendekat dan menepuk pundakku.

“Ndien.”, sapanya.

Saat aku berbalik, aku kaget. Ternyata dia adalah Anton.

“I… iya, Ton? Ada apa?”, tanyaku gugup.

“Kamu kenapa gugup seperti itu?”, tanyanya heran.

“Enggak apa-apa kok, tumben aja kamu mau menyapaku. Biasanya kan…”

“Biasanya enggak gitu kan? Oh iya, aku mau mengundangmu di acara ulang tahunku besok malam. Kamu mau datang kan?”, pintanya.

“Hmmm… jam berapa ya, Ton?”

“Jam 7 malem kok. Acaranya enggak sampe malam. Paling jam 9 udah selesai.”

“Gitu ya… yaudah aku bakalan datang kok. Thanks ya.”

Aku bergegas pergi. Aku masih kaget, tercengang, bahkan heran. Udah 2 tahun Anton tidak mengajakku berbicara semenjak kejadian kelas X dahulu. Dan karena itulah, aku menjadi benci padanya, bahkan berusaha melupakan persahabatan yang telah lama kami jalin dulu.

*****

Aku bingung, pakaian apa yang akan aku pakai nanti malam. Namanya aja juga party, pasti pakai dress. Kenapa tadi aku tidak bertanya pada Anton… pelupa sekali diriku ini! Dan hingga akhirnya, aku memilih untuk memakai dress.

Kado ultahku untuk Anton adalah jam tangan. Lalu, aku menyusun foto-foto kami semasa kecil di album foto lucu yang telah aku beli tadi. Aku hanya bisa berharap, semoga Anton suka pada hadiah yang akan aku berikan nanti.

Tepat pukul 7, aku bergegas menuju rumah Anton. Terlihat, sudah banyak teman-teman yang akan ikut merayakan ulang tahun Anton. Teman sekelas Anton, bahkan teman kami semasa kami kecil pun juga datang.

“Hei Andien!”, seru Silvia, temanku semasa aku SD.

“Silvia! Apa kabar?”, aku memeluk Silvia.

“Aku baik, Ndien. Kamu?”, tanyanya.

“Aku juga baik. Kamu sekarang sekolah dimana?”

“Di SMA Lentera Kasih. Oh iya, denger-denger kamu dari SD sampe SMA ini satu sekolah ya sama Anton?”

“Hehe, iya, Sil. Aku juga bingung kenapa bisa satu sekolah terus sama dia.”

“Jangan-jangan kalian jodoh lagi, hehehe… Yasudah yuk masuk, pasti acaranya udah mau dimulai.”

Aku dan Silvia masuk ke rumah Anton. Banyak teman lama yang menyapa, menanyakan kabar, bahkan ada juga yang heran, seperti Silvia, kenapa aku bisa satu sekolah terus sama Anton.

Aku pun menghampiri Anton yang sedang sibuk menerima kado ulang tahun dari teman-temannya.

“Happy birthday ya, Ton. Panjang umur. Aku berharap, semoga kamu menjadi lebih baik lagi.”, kataku sambil menyodorkan kado untuknya. Dia terlihat sangat senang menerimanya.

“Makasih ya, Ndien.”, jawabnya sambil tersenyum.

Lima belas menit kemudian, acara pun dimulai. Anton terlihat sangat bahagia. Namun, dia selalu menatapku. Aku berpura-pura untuk mengalihkan pandanganku, seolah-olah aku tidak peduli padanya. Saat lilin sudah ditiup, Anton akan memotong kue ulang tahunnya. Dalam hati kecilku yang paling dalam, aku berharap agar Anton juga memberikannya untukku setelah ia memberikan potongan kue ulang tahun untuk orangtuanya.

Tiba-tiba, Anton menghampiriku, membawa potongan kue itu untukku. Aku sangat kaget dan syok.

“Ini untukmu, Ndien.”, kata Anton sambil menyodorkan potongan kue itu untukku.

“Makasih ya, Ton. Sekali lagi selamat ulang tahun untukmu.”, jawabku sambil berkaca-kaca. Yang aku rasakan saat ini adalah bahagia, dan terharu. Dua tahun Anton menjauh dariku, bahkan sempat membuatku malu dan benci pada dirinya. Namun, malam itu menjadi malam yang sangat bersejarah, karena Anton mau untuk berteman lagi denganku.

Acara pun dilanjutkan dengan makan malam. Party kali ini memang menyenangkan. Anton pintar dalam mengemas partynya kali ini. Aku masih ingat, saat Anton merayakan ulang tahunnya yang ke-9 tahun, dia yang mengemas acaranya sendiri. Aku juga ambil bagian dalam acaranya. Kami berdua yang merencanakan ulang tahun Anton kala itu. Masa-masa yang cukup indah dan penuh warna. Aku berharap, masa-masa itu akan terulang kembali mulai dari sekarang.

Anton duduk di sampingku.

“Ton, kok nggak gabung sama temen-temenmu?”, tanyaku.

“Enggak.”, jawabnya singkat.

“Kenapa?”

“Karena hari ini aku mau duduk di samping sahabat terbaikku.”

“Sahabat terbaik? Maksudmu aku?”

“Iyalah, siapa lagi coba?”

Aku tersenyum. Kami pun diam sejenak. Kemudian, Anton yang memulai pembicaraan lagi.

“Andien, maafin aku. Dua tahun yang lalu, aku pernah mempermalukan kamu di depan anak-anak.”

“Enggak papa, Ton. Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf sama aku.”

“Makasih ya, Ndien. Oh iya, aku juga mau minta maaf, selama dua tahun itu aku udah jauhin kamu, bahkan sempat tidak bertegur sapa denganmu. Maaf karena aku menjauhimu. Baru kemarin, aku berusaha mengumpulkan nyali untuk bisa bicara lagi denganmu. Aku takut, kamu masih marah padaku. Bahkan aku takut, kalau kamu jadi kuliah di luar kota.”

Aku menatap Anton tajam. Darimana dia tahu, kalau aku berencana akan melanjutkan kuliahku di luar kota.

“Darimana kamu tahu, Ton? Ya aku memang rencana mau kuliah di luar kota. Kenapa memangnya?”

“Hmmm… enggak papa kok. Nggak papa aja, aku takut kalo…”

“Kalo apa?”

“Kalo persahabatan kita akan jauhan lagi, iya itu.”

Sebenarnya aku tahu kalau Anton sedang menutupi sesuatu dariku. Aku bersahabat dengannya sudah lama. Semua seluk beluk tentang Anton, aku sudah tahu. Bahkan, dia juga tahu seluk beluk tentangku. Aku hanya bisa diam saja, memberi dia banyak waktu untuk mengumpulkan nyalinya agar bisa mengatakan yang sebenarnya.

“Ndien, mau kan jadi sahabatku lagi?”, tanya Anton.

“Iya, aku mau. Janji ya, jangan tinggalin aku?”, aku menyodorkan jari kelingkingku. Dengan cepat, Anton menyatukan kelingkingku dan kelingkingnya. Tanda perjanjian inilah yang sering kami lakukan semasa kecil. Romansa masa kecil membawaku kembali ke kenangan indah yang menyenangkan dan menggembirakan itu.

*****

Hari baru, semangat baru. Masuk kelas dengan penuh semangat dan ceria. Rina terlihat tersenyum melihatku.

“Ndien, hari ini hari spesial buatmu.”, kata Rina sambil tersenyum.

“Kok bisa, Rin?’, tanyaku.

“Iya, karena hari ini kamu akan tahu siapa yang sering ngasih kamu bunga mawar putih dan puisi romantis itu.”

“Beneran? Siapa dia? Mana orangnya?”

“Tunggu sebentar, kalo kamu kepengen tahu siapa orangnya, mata kamu harus ditutup dulu pake kain ini.”

“Yah, Rina. Masak pake rahasia-rahasiaan segala sih.”

“Katanya pengen tahu, ya emang aturannya kayak gini.”

“Yaudah deh, aku ngikut.”

Mataku ditutup dengan kain oleh Rina. Aku penasaran siapa pengirim anonim itu. Detak jantungku mulai tak menentu. Saat Rina membuka kainnya, aku melihat di depanku ada Anton yang membawakan bunga mawar putih.

“Anton? Kok kamu ada disini?”, tanyaku heran.

“Iya, aku ada disini karena akulah pengirim bunga mawar putih dan puisi anonim itu.”, jawabnya sambil tersenyum.

Aku melirik Rina. Rina hanya tersenyum.

“Aku memang kerja sama dengan Rina. Aku menitipkan bunga mawar putih dan puisi setiap paginya pada Rina, lalu Rina yang menaruhnya di lacimu. Kadang-kadang saat kamu dan Rina belum datang, aku sendiri yang mampir ke kelasmu.”, jelas Anton.

“Iya, Ndien. Maafin kami, ya, kami lakukan ini semua sama kamu karena sebenarnya kami punya misi agar hubungan kamu dan Anton bisa kembali rukun.”, sambung Rina.

“Ton, kamu dulu marah-marah sama aku gara-gara aku dulu suka sama kamu kan? Kok jadi gini sih, aku bingung.”, kataku sambil garuk-garuk kepala.

“Gini ya, Ndien. Memang saat itu aku udah tahu kalo kamu suka sama aku. Dulu aku memang nggak bisa nerima kenyataan, sampai-sampai aku marah sama kamu, jauhin kamu. Semakin lama kita jauhan, aku semakin kesepian. Bahkan aku merasa sedih harus jauhan sama kamu. Kenapa? Karena sebenarnya, dalam pelarianku, aku memiliki rasa untukmu. Sudah lama juga sih, aku memendam rasa ini sama kamu.”, terang Anton panjang lebar.

Aku hanya bisa menangis haru dan bahagia. Aku menerima bunga mawar putih itu dari Anton. Sekarang aku tahu, bahwa cinta itu bisa tumbuh melalui proses yang sangat amat panjang. Berawal dari persahabatan yang telah lama aku jalin dengan Anton, Tuhan menghendaki agar kami berdua memiliki rasa mengasihi dan menyayangi satu sama lain.

Kami berkomitmen untuk tidak pacaran dulu. Kami enjoy dengan hubungan persahabatan yang kami jalin kembali setelah dua tahun kami tidak saling peduli satu sama lain. Kami berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik untuk satu sama lain. Hingga pada akhirnya, aku dan Anton lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Kami masuk ke Universitas Favorit di kota kami. Dan saat kelulusan itulah, kami resmi berpacaran.

Cinta membutuhkan suatu proses yang sangat panjang. Cinta juga memerlukan pengorbanan, bahkan rasa saling menghargai satu sama lain. Bukan hanya cinta kepada lawan jenis, namun cinta pada Tuhan, orangtua, dan orang-orang yang berada di sekitar kita.

 

Tags: , , ,

May's Blog is proudly powered by WordPress and FreeUsenext